Perubahan Budaya dan Agama Masyarakat Madura

Pendahuluan

Madura adalah salah satu dari contoh cerminan etnisitas di Indonesia yang sangat beragam. Sejarah Madura yang sangat panjang semenjak pendudukannya oleh pemerintahan kolonial hingga saat ini memberikan ciri tersendiri kepada Masyarakat Madura.

Memang dapat dibenarkan jika Madura mendapat pengaruh yang kuat dari Jawa. Sepanjang yang diketahui Mdura telah merupakan bagian dari kerajaan Hindu dan kekuasaan Islam yang pusatnya di Jawa, seperti misalnya Singosari, Majapahit, Demak, Kudus, Gresik, Surabaya, dan Mataram. Raja-raja Madura pada zaman dahulu mempunyai hubungan keluarga dengan bangsawan Jwa dan meniru-niru cara hidup kraton Jawa. Walaupun keadaannya demikian, kebudayaan Madura mempunyai cirri khasnya sendiri dan telah melalui proses perkembangan tersendiri.

Tulisan ini akan memaparkan kondisi budaya, sosial, dan politik pada masyarakat Madura. Dengan metode ekspohistoris dan pemaparan tentang data yang diperoleh dari berbagai artikel, buku dan tulisan lainnya untuk melengkapi informasi mengenai keadaan masyarakat Madura hingga menjadi seperti saat ini.

Penetrasi yang kuat akan agama islam dalam masyarakat Madura yang sedikit banyak merubah pandangan masyarakat Madura terhadap hidupnya. Dari mulai masalah pendidikan, upacara-upacara keagamaan, sampai orientasi politiknya. Agama islam pada masa perkembangannya juga membentuk perekonomian rakyat Madura dan menimbulkan budaya merantau dan berpindah tempat.

Tertanamnya Kekuasaan Belanda di Sumenep, Madura

Cara bagaimana Madura digabungkan ke dalam negara kolonial sangat berbeda dengan cara pulau dan daerah lain di kepulauan Indonesia. Sampai pergantian abad ini kekusaan pemerintah kolonial berbeda-beda di daerah satu dengan daerah lainnya. Mereka tidak memiliki kekuasaan yang sama untuk seluruh wilayah. Sebagai akibatnya, proses pembentukan negara tidak memberi kesan adanya suatu penyatuan yang lancar dari berbagai bagian koloni ini. Sebaliknya, perkembangan ini mempunyai sifat yang tidak beraturan. Iini terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa baru kira-kira tahun 1800 gagasan untuk menyatukan daerah-daerah jajahan ini menjadi suatu negar mendapatkan perhatian di negara induk di Eropa. Konsolidasi wilayah dimulai setelah VOC aktif di bagian Asia Tenggara ini selama hampir lebih dari dua ratus tahun di samping itu, suatu dareah seluas ini, yang meliputi berbagai jenis negara lokal yang dibentuk atas dasar yang berbeda-beda, idak dapat digabungkan dengan cara yang sama. Untuk tujuan itu sarana-sarana yang diperlukan tidak mencukupi. Lagipula, suatu perbedaan antara daerah-daerah timbul, karena mereka tidak semuanya sama pentingnya bagi negeri Belanda. Sampai tahun 1877 Hindia Belanda pertama-tama adalah sebuah wingewest, sebuah “negara penghisap”, yang memungkinakan tercapainya suatu batig slot atau surplus dalam neraca perdagangan Belanda.

Sejak awal beroperasinya di kepulauan Indonesia, VOC, yang didirikan sebagai suatu perusahaan dagang, merasa terpaksa untuk turut campur tangan dalam urusan-urusan intern berbagai kerajaan setempat. Ini perlu mengingat tujuan VOC yaitu diperolehnya produk-produk dengan harga yang tidak terlalu tinggi dan perlindungan atas rute-rute perdagangan. Mula-mula campur tangan itu terbatas berupa pemaksaan monopoli jual-beli dan permintaan upeti, yang disebut kontingen, dan pengiriman palksa tertentu. KarenaVOC menguasai persenjataan-persenjataan laut yang modern dan strategi militer yang maju, bagi mereka mengarahkan lawan yang lebih besar jumlahnya untuk menuruti kemauannya adalah sangat mudah (Burger 1975, I: 20-32). Setelah beberapa waktu, perpecahan-perpecahan politik yang meningkat di dalam kerajaan-kerajaan setempat dan usaha yang terus-menerus dari kekuatan-kekuatan saingan Eropa untuk menetap di daerah ini menyebabkan campur tangan langsung menjadi semakin dalam.

Pencengkraman Sumenep oleh VOC didorong oleh adanya kesulitan serius di dalam kerajaan Jawa Tengah Mataram yang setelah suatu pertempuran sengit menaklukan Madura pada tahun 1624. pemberontakan itu dengan segera menjadi demikian hebat sehingga menyebabkan kekuasaan pusa menjadi goncang. Raja Mataram terpaksa harus meminta bantuan kepada Belanda yang dibenci.

VOC mengambil manfaat dari situasi ini dengan membuat bantuan mereka tergantung pada dipenuhinya beberapa syarat yang menguntungkan mereka sendiri. Mengingat situasi tersebut raja hanya bisa menuruti dengan menytujui beberapa kontrak yang dibuat selama perang, VOC berhasil memperoleh demikian banyak hak istimewa sehingga dari saat itu sampai seterusnya tidak mungkin lagi bagi Mataram untuk memainkan peranan yang penting di sepanjang pantai utara dan dalam perdagangan luar negeri.

Pulau ini dimaksudkan untuk tetap berada di bawah supremasi Mataram. Akan tetapi, setetlah suatu pergolakan baru di Mataram pada tahun 1680, Pamekasan dan Sumenep berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri menjadi bawahan kekuasan kerajaan Jawa ini, mereka dengan sungguh-sungguh berusaha supaya VOC menguasai daerah itu.

Pada tahun 1705, ketika Jawa Tengah sekali lagi terpecah dengan parah oleh sebuah perang perebutan kekuasaan dan permintaan tolong kepada VOC sekali lagi tidak dapat dihindarkan, VOC berhasil memaksakan suatu keputusan mengenai Madura Timur. Anggota Dewan Hidian Belanda, Herman de Wilde, dan pasukannya berhasil dalam mendudukan seorang susuhunan baru di atas tahta kartasura. Sebagai utusan khusus pemerintah Batavia, de Wilde diberi hak untuk memperbarui kontrak yang ada, di mana disamping pengesahan perjanjian-perjanjian terdahulu dan bebrapa konsesia baru, “yang Mulia dengan ini secara resmi menganugerahkan dan memberikan negara Sumenep dan Pamekasan yang terletak di nagian Timur Pulau Madura kebawah perlindungan VOC.” (Heeres 1935: 244). Ini merupakam suatu pukulan bagi Jwa, sebuah rampasan baru bagi VOC.

Struktur pemerintahan lokal yang dijumpai VOC di Sumenep sebagian besar sama dengan struktur yang dijumpai di kerajaan-kerajaan Jawa. Raja atau pangeran merupakan kepala negara. Di dalam pelaksanaan pemerintahan sehari-hari dia dibantu oleh beberapa orang mantri (pejabat istana), yang diantara mereka patih atau wakil bupati merupakan primus inter pares-nya. Bersama-sama mereka merupakan struktur pemerintahan paling atas yang menjangkar ke bawah ke tingkat lokal di bagian pusat kerajaan, yaitu sebuah dataran rendah yang dapat ditanami padi sawah pada musim penghujan. Di daerah-daerah yang lebih sulit dicapai dan di pulau-pulau kecil bawahan, pemerintah jauh lebih terbelakang. Raja tidak mempunyai sarana untuk melakukan suatu pengawasan permanen atas kawasan ini.

Sumenep dan Negara Kolonial Sampai Tahun 1883

Revolusi politik di negeri Belanda dan peralihan dari republik provinsi-provinsi serikat ke republik Batavia mempunyai akibat-akibat yang penting untuk situasi di tanah jajahan. Pada tahun 1800 pemerintah baru itu mengambil alih semua milik VOC. Pada saat yang sama diputuskan bhawa administrasi tanah jajahan akan diubah, sehingga akan lebih sesuai dengan kepentingan negara. Ketegangan-ketegangan yang semakin meningkat antara kekuatan-kekuatan di Eropa menandai dimulainya reorganisasi yang dimkasudkan sampai Daendels diangkat pada tahun 1808. daendels menghancurkan semua kontrak dengan regen-regen Jawa, menurunkan derajat mereka dengan meletakkan pulai ini (yaitu Jwa) dibawah pemerintahan langsung pemerintah pusat negara kolonial (Stapel 1943: 199)

Tetap dipertahankannya pemerintahan tidak langsung atas Sumenep oleh pemerintah kolonial selama kurun waktu dua ratus tahun menyebabkan proliferasi hubungan-hubungan politik setempat. Di dalam organisaisi administrative setempat yang mengembang in iterjadi diferensiasi yang makin meningkat, yaitu suatu perkembagnan di mana kebiasaan membayar pejabat dan bangsawan dengan hal-hak penarikan pajak dan tanah bengkok dipertahankan secara terus-menerus.

Tekanan terhadap rakyat yang diakibatkannya merupakan hasil yang tidak disengaja dan tidak direncanakan dari beberapa hasil yang tidak disengaja dan tidak direncanakan dari beberapa faktor yang saling mempengaruhi. Berkat perlindungan mula-mula dari VOC dan kemudian dari pemerintah kolonial, regen sangat berhasil menentramkan wilayahnnya. Kontrak-kontrak yang dibuat VOC dengan Sumenep dan kerajaan-kerajaan tetangganya, bersama dengan kehadiran pos-pos militer yang diletakkan di tempat-tempa yang strategis, mencegah ancaman dari luar terhadap wilayah ini.

Pada saat itu Sumenep relatif terisolir karena dominasi politik kolonial. Pada abad kedelapan belas, di bawah administrasi VOC, pemerintahan setempat sedikit banyak dalam banyak hal telah dengan sengaja memua\tuskan hubungan dengan dunia luar, karena disibukkan oleh usaha-usaha penentraman intern, suatu kenyataan yang sangat memuaskan bagi VOC. Lagipula, selama berkembanganya negara kolonial, Sumenep telah memperoleh satu tempat khusus di kepulauan Indonesia sebagai akibat dari diteruskannya pemerintahan tidak langsung. Sumenep merupakan daerah tandus dan terpencil tanpa sesuatu harapan akan memberikan keuntungan pada Belanda. Ekonominya tetap sangat berdasarkan pada pertanian rakyat.tetap diteruskannya pemerintahan sendiri juga berarti bhwa pemerintah kolonial tidak mengubah struktur politik setempat. Tindakan-tindakan yang dicetuskan di dalam kontrak-kontrak memberikan pembatasan terhadap kekuasaan pejabat-pejabat setempat. Tindakan-tindakan tersebut tidak diarahkan pada perubahan atas pola yang ada.

Perkembangan penduduk yang sangat cepat di dalam rezim agraris tradisional, perluasan birokrasi setempat dan pemerkayaan kultur istana merupakan faktor-faktor yang didalam batas-batas yang dikenakan oleh kolonialisme mempercepat proliferasi hubungan-hubungan politik dan ekonomi yang ada. Makin lama makin banyak orang diantaranya adalah satu golongan parasit yang sedang berkembang, menjadi tergantung pada hasil pertanian yang hampir tidak pernah meningkat. Kaum bangsawan karena terikat oleh kontrak, tidak mempunyai kemungkinan lain dalam masyarakat kolonial. Kaum petani pada gilirannya berada dalam cengkraman kekuasaan istana dan pengikut-pengikutnya yang didukung kekuasaan dari luar.

Agama Islam dan Politik : Gerakan Sarekat Islam Lokal di Madura

Sarekat Islam (SI) dalam tahap-tahap awalnya merupakan contoh tentang dalam dan luasnya keterlibatan agama islam dan politik Indonesia modern yang pada gilirannya memberi cirri pada kegiatan-kegiatan politik islam selama berpuluh-puluh tahun. Namun, sejauh ini belum ada publikasi mengenai SI yang mempelajari gerakan ini dipandang dari segi politik lokal menunjukan dalam kehidupan kecil proses penentuan diri sendiri SI.

Madura merupakan tanah yang subur untuk mempelajari gerakan-gerakan politik Islam karena beberapa alasan. Pertama, madura merupakan satu diantara banyak tempat dimana penetrasi kapitalis pada abad kesembilan belas telah mempengaruhi kehidupan rakyat sehari-hari. Para penguasa Madura sudah terbiasa menyewakan apanage mereka kepada lintah darat Cina. Kedua, Madura menderita akibat sisa-sisa dari suatu system stratifikasi sosial yang ketat telah memusatkan kekuasaan dan hak-hak istimewa semata-mata dalam tangan golongan yang memerintah saja. Ketiga, madura terkenal karena rakyatnya yang taat pada agama, sedemikian sehingga ketaatan ini sedikit banyak mencerminkan perilaku keagamaan umat Islam di Indonsia. Keempat, kerumitan struktur sosial Mdura mencerminkan masyarakat Indonesia yang berbeda dengan yang lainnya.

SI memperkenalkan rakyat Madura pada dunia modern. Dasawarsa setelah oreng kenek dibebaskan dari hubungan ketergantungan mereka pada kaum bangsawan berlalu tanpa perubahan berarti, dan SI-lah yang menjadikan kebebasan itu terwujud. Kepemimpinan SI menyediakan sebuah alternatif baru untuk hubungan vertical antara mereka yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan. Persekutuan antara cendekiawan kota dan pemimpin agama di pedesaan menandai suatu fase baru dalam sejarah politik Indonesia. SI menarik massa baik dari perkotaan maupun pedesaan. Belum pernah ada sebelumnya mobilisasi massa begitu berhasil. Madura secara tradisional bukan merupakan tanah yang subur untuk mobilisasi umum.

Masyarakat yang Berubah

Madura pada peralihan abad ini merupakan pencerminan masyarakat Indonesia lainnya dimana masyarakat tradisional diletakkan di bawah pemerintahan kolonial. Merosotnya masyarakat patrimonial dan pembentukan birokrasi kolonial di Madura mengakibatkan melaratnya kaum bangsawan. Para bekas pemegang apanage ini kehilangan desa mereka, petani mereka dan hak-hak istimewa yang telah mereka nikmati selama beberapa generasi pemerintahan pribumi. Penghapusan tiga kerajaan Madura, Paemkasan, Sumenep, dan Bangkalan, selesai pada akhir abad kesembilan belas. Tetapi tidak semua kaum bangsawan diangkat dalam birokrasi kolonial. Birokrat-birokrat bangsawan ini, bersama-sama dengan birokrat bukan bangsawan, merupakan suatu lapisan masyarakat baru yang disebut priayi.

Sebagai rekasi terhadap perubahan sosial, pada yahun 1889 kaum bangsawan setempat bi Bangkalan mendirikan perkumpulan yang pertama kali dikenal, Condong Manah (secara harfiah berrati “Persesuaian Hati”), dipimpin oleh Wedono Bangkalan. Perkumpulan ini mengambil anggota dari kalangan kaum priayi dan kaum bangsawan. Apa yang penting mengenai organisasi sukarela yang pertama ini ialah bahwa pemerintah kolonial menganggapnya sebagai bahaya terhadap stabilitas politik. Karena takut Condong Manah akan terlibat dalam kegiatan politik, pengusa Belanda memutuskan melarang pertemuan-pertemuannya. Akan tetapi, kesulitan yang sesungguhnya dating dari satu sumber lain. Terdapat tanda-tanda kebangkitan agama yang semakin meningkat di Bangkalan. Laporan waktu itu menyatakan bahwa lebih banyak langgar dibangun di Bangkalan.

Akan tetapi, kecurigaan politis terhadap kaum bangsawan ini tertutup oleh kekhawatiran pemerintah akan masalah tingkah laku tidak senonoh dari kaum bangsawan yang jatuh miskin yang lebih banyak menibulkan kesulitan.

Beban utang kaum bangsawan kepada lintah darat Cina telah mengakibatkan adanya sikap bermusuhan yang umum terhadap orang Cina. Belanda berusaha untuk mengurangi sikap bermusuhan ini dengan memberikan bantuan keuangan dan bantuan hukum kepada kaum bangsawan yang jatuh melarat tersebut. Meskipun demikian, banyak kaum ningrat yang masih menjadi korban orang-orang Cina yang mempunyai kedudukan hukum yang kuat.

Kenyataan bahwa Cina telah mendominasi ekonomi Madura tidak berarti bahwa tidak ada kelas menengah pribumi. Sampai batas-batas tertentu pedagang-pedagang pribumi masih menguasai usaha-usaha kecil dan eceran, kecuali usaha-usaha antar- pulau dan perdagangan borongan. Perdagangan komoditas bukan hasil petanian dan industri transportasi sebagia besa dikuasai oleh orang Cina. Cina bahkan juga mengusasai perusahaan kereta api yang disponsori pemerintah.

Organisasi Sosial Kepercayaan

Masyarakat Madura adalah Islam. Pemandangan desa-desa mewujudkan hubungan yang erat antara agama dan kehidupan sehari-hari. Hampir semua rumah terutama rumah-rumah di Sumenep, mempunyai sebuah langgar. Di satu desa terdapat sekurang-kurangnya satu mesigit (mesjid) umum. Di desa kehidupan keagamaan diatur oleh masyarakat sendiri. Di sini kiai memainkan peranan yang penting baik dalam pendidikan agama maupun peristiwa-peristiwa keagmaan pada umumnya. Pejabat keagamaan tingkat desa, disebut modin, hanya mengurusi masalah yang kaitannya dengan hukum seperti pendaftaran kelahiran (seringkali mencakup vaksinasi anak-anak maupun orang dewasa), perkawinan, perceraian, dan kematian

Kehidupan keagamaan berakar kuat dalam adat orang Madura. Sepanjang tahun penuh dengan selamatan untuk mengenang keluarga yang telah meniggal dunia, dilaksanakan pada hari kamis malam. Pesta-pesta bulanan atau selamatan dilaksanakan unutk mengenang pendiri mazhab Qadariyah Sufi, Syekh Abdul Qadir al0Jilani. Terdapat banyak upacara lain sepanjang tahun. Tajin Sora, sebuah selamatan bubur dan ayam, dilaksanakan pada bulan Sora atau Muharram, bulan pertama tahun islam. Selamatan ini dilaksanakan ini dilaksanakan untuk mengenang Husaain, cucu Nabi. Bulan berikutnya, Safar, sebuah sedekah lain akan dilaksanakan untuk mengenang Sayid Abubakar yang telah memenangkan peperangan melawan Dajjal, Raja Iblis. Pada bulan Rabiul-akhir dilaksanakan sedekah arasol. Pada tanggal 27 Rajab, ada selamatan untuk mikraj Nabi Muhammad SAW. Dalam bulan Sya’ban orang-orang desa mengadakan upacara yang berlangsung seusai Maghrib sampai habis Isya sebelum fajar. Sambil berjalan sepanjang pantai atau daerah pinggiran kota, mereka mengucapkan doa-doa tertentu, meminta kesehatan, umur panjang, dan kemakmuran. Bulan puasa adalah bulan untuk beribadah berpuasa. Pada tanggal 21 sampai 29 ada sedekah amal iman. Hari pertama bulan Syawal adalah hari besar, pesta ketupat merayakan berakhirnya minggu puasa sunat. Akhirnya dalam bulan Zulhijjah, di laksanakan perayaan pesta haj dan disebut sedekah telasan haji.

Kehidupan sehari-hari anak-anak juga penuh dengan suasana keagamaan. Sebelum tidur anak-anak membaca dua kalimat syahadat. Tentu saja, siklus kehidupan, kelahiran perkawinan dan kematian, penuh dengan upacara keagamaan. Para santri suka sekali hadra, atau main gendang dan menyanyi. Singkatnya, agama memainkan suatu peranan yang penting dalam sosialisasi anak-anak dan kehidupan sehari-hari orang pada umumnya. Ada beberapa kegiatan yang lebih bersifat duniawi, seperti mele’an atau tidak tidur semalaman suntuk sambil membaca cerita-cerita kesusasteraan Jawa lama. Bahkan di beberapa tempat tari sosial jawa, tayub, menjadi bagian dari Budaya madura

Penting juga untuk diperhatikan bagaimana kehidupan keagamaan diturunkan dari generasi ke generasi. Pendidikan agama memenuhi kegiatan sehari-hari baik tua maupun yang muda. Lembaga pendidikan yang terendah adalah sekolah-sekolah langgar yang merupakan milik pribadi guru-guru agama. Pendidikan langgar dasar memperkenalkan anak-anak pada pembacaan Quran, mulai dengan pengetahuan sederhana mengenai huruf Arab (alif-alifan), bergerak maju ke turutan (bab-bab yang pendek) dan pembacaan seluruh Al-Quran. Untuk pelajaran lebih lanjut murid pergi ke pesantren di mana diajarkan kitab atau buku-buku keagamaan. Akan tetapi, karena kebanyakan santri menjadi dewasa pada akhir pendidikan agama mereka dan tenaga mereka piperlukan oleh orang tua mereka, banyak murid mengakhiri pelajaran mereka setelah khatam atau tamat ngaji (menyelsaikan quran di sekolah langgar).

Gerakan Sarekat Islam

Terutama karena alasan-alasan ekologis, Madura tidak pernah bisa menjadi tanah subur untuk tindakan kolektif. Sebuah laporan pemerintah pada tahun 1906 menyimpulkan bhawa untuk orang Madura, mengorganisir suatu gerakan sosial adalah suatu kemustahilan. Ekologi tegalan tidak memerlukan system pengairan komunal yang dapat merupakan jalan bagi munculnya perasaan kolektif.

Jadi satu-satunya sarana komunikasi yang efektif ialah melalui agama. Sembahyang Jum’at yang dilakukan seminggu sekali di mesjid desa, menyediakan suatu saluran, walaupun khutbah pada saat itu disampaikan dalam bahasa dan berkaitan dengan masalah keagamaan murni.

Meskipun demikian, kiai rasanya bukan pemimpin yang cocok untuk gerakan sosial modern. Gaya kepemimpinan pribadi kiai yang kharismatis tidak dilengkapi dengan keterampilan yang perlu untuk mengorganisir kegiatan-kegiatan yang berisi ideology, struktur dan tujuan tertentu. Jenis kepemimpinan agama yang lainlah, haji, yang memberikan alternatif. Haji kebanyakan adalah pedagang, dan dengan demikian mereka merupakan bagian masyarakat yang paling mobil.

Haji saydzili, pendiri dan pemimpin gerakan SI di Madura, adalah seorang pedagang beras yang seringkali bepergian ke Surabaya. Kenyataan bahwa setiap haji mampu untuk bepergian ke Mekkah, yang ongkosnya lebih dari 500 gulden pada pergantian abad ini, menunjukkan bahwa mereka kaya sekali.

Dipilihnya Haji Syadzili dan kota Sampang untuk pendirian SI yang pertama di Madura memerlukan sedikit penjelasan. Mas Gondosasmito, yang setelah kembali dari mekah disebut Haji Syadzili, adalah sorang mantri guru, kepala sekolah, pada sekolah umum pemerintah di kota Sampang sebelum pergi naik haji pada usia 25 pada tahun 1911. mungkin, karena memperkirakan akan adanya konflik-konflik tertentu menjadi haji dan sekaligus seorang kepala sekolah, dia mengundurkan, atau kalau tidak begitu mungkin dia telah diberhentikan dari pekerjaan mengajarnya. Setelah kawin dengan seorang pedagang wanita yang berhasil, dia mengadu nasibnya dalam perdagangan beras. Di Surabaya, pusat perdagangan Jawa Timur, dia berhubungan dengan Cokroaminoto stelah markas besar SI dipindahkan ke kota itu. Dia mengunjungi Cokroaminoto dan beberapa lama bersama dia mempelajari ideology dan organisasi gerakan SI. Sementara itu, kota Sampang agaknya telah dipersiapkan dengan baik untuk kegiatan-kegiatan Syadzili.

Perkembangan SI berhasil dengan baik. Syadzili bepergian sampai sejauh pulau sapudi di timur untuk menjual saham sebuah toko koperasi SI di Surabaya. Pemerintah menjadi panik melihat penyebaran SI di Surabaya. Banyak pegawai pemerintah bergabung pada gerakan ini dan mengangkat sumpah. Pemerintah khawatir bahwa SI akan menjadi suatu gerakan masyarakat rahasia, yang menarik anggota dan mengharuskan mereka mengangkat sumpah setia kepada SI. Pejabat-pejabat pemerintah setempat di kota Pamekasan segera memberikan reaksi dengan melarang sumpah-sumpah rahasia dan meminta bantuan pejabat-pejabat keagamaan dalam pemerintahan untuk melawan pengaruh SI. Akan tetapi, baik larangan tersebut maupun pejabat keagamaan tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan gerakan ini. Pemerintah terpaksa menyerah pada tuntutan rakyat banyak. Pada tanggal 31 Desember 1913 permohonan untuk pengakuan status resmi SI Sampang dan Sumenep diserahkan kepada pemerintah, dan tahun berikutnya dating permohonan dari Pamekasan (9 Februari 1914), dari Duko (25 Februari), dari Bangkalan (2 April). Tidak ada alas an bagi pemerintah untuk menolak status resmi tersebut, dan pemerintah akhirnya terpaksa mengabulkan permohonan-permohonan tersebut.

Walaupun terdapat banyak pemimpin priayi, tokoh-tokoh SI yang menonjol di Madura pada umumnya adalah oreng kenek, dan sementara terdapat cukup banyak kiai, kesadaran keagamaan haji adalah dominan. Dengan kata lain, SI di Madura adalah sebuah gerakan oreng kenek atau wong cilik dan sekaligus sebuah gerakan ummat. Partisipasi oreng kenek merupakan suatu tanda kesadaran baru. Setelah bebas dari hubungan kepatuhan kepada kaum bangsawan yang telah berjalan lama, mereka muncul sebagai suatu kelas sosial baru dengan kepentingan yang sama. Banyak peristiwa yang menunjukkan ketidakpuasan dan permusuhan rakyat terhadap kaum bangsawan yang menurun wibawanya terjadi selama periode yang sedang dipelajari ini.

Pentinganya gerakan Si di Madura untuk memahami gerakan islam secara umum ialah bahwa sejarah lokal dan awal SI merupakan contoh hakikat dan proses gerakan islam pada umumnya. Gerakan oreng kenek atau wong cilik dengan pimpinan yang melintasi batas golongan – cendekiawan, priayi dan pedagang – dan pimpinan yang berasal baik dari latar belakang perkotaan maupun pedesaan, telah merupakan ciri gerakan islam Indonesia. Gerakan wong cilik ini seringkali terpaksa untuk bersifat lebih khusus dan untuk membatasi horizon politiknya. Munculnya solidaritas umat yang berbeda atau sering bertentangan dengan gerakan nasionalsi lainnya adalah akibat proses sejarah yang demikian itu. Dibentuknya komite tentara kanjeng Nabi Muhammad pada tahun 1918 adalah hanya satu kasus di antara banyak keharusan sejarah.

Kemunduran SI di Madura menandai suatu era sejarah baru dalam politik madura. Kurangnya keterpaduan dan integrasi SI kemudian diganti oleh Nahdlatul Ulama, dimana lebih banyak pemimpin desa dan wong cilik tampil ke depandalam kehidupan politik. Masa magang yang lama dari kiai desadalam tubuh SI menghasilkan kematangan mereka. Tetapi kemunduran kepemimpinan Islam kota mempunyai akibat-akibat yang tidak menguntungkan bagi Madura. Kemudian diakui bahwa relatif lambatnya proses modernisasi di Madura adalah disebabkan oleh kuatnya pimpinan desa dalam gerakan Islam. Pimpinan intelektual kota, seperti pimpinan Muhammadiyah dan gerakan sosial lainnya membatasi kegiatan mereka pada daerah perkotaan saja. Desa diserahkan pada pemimpin-pemimpin dsa tadi, yaitu kiai

Implikasi yang lebih luas dari SI di Madura ialah bahwa mobilisasi massa Islam selalu disalurkan lewat daya tarik pada perasaan nasionalis, wong cilik dan ummat. Pada permulaannya, SI lebih banyak mewakili perasaan-perasaan nasionalis dan wong cilik, tetapi kemudian terpaksa mewakili ummat, posisi yang dipegang oleh gerakan-gerakan Islam saat ini. Kebangkitan kembali Islam dalam politik Indonesia dapat terjadi jika gerakan-gerakan Islam yang sekarang mempertimbangkan kembali untuk mewakili perasaan-perasaan nasionalistis dan wong cilik (dan persoalan sosial ekonomi yang menyertainya) sebagaimana telah dilakukan oleh SI pada tahap-tapah awal keberadaannya. Kalau gerakan Islam dapat melepaskan diri dari definisi sempit dari ummat yang dilaksanaan, suatu daya tarik lang lebih luas pada mobilisasi massa dapat diharapkan.

Perilaku Agama

Orang Madura merupakan penganut agama Islam yang taat. Dalam masalah agama mereka lebih monolit dibandingkan dengan orang Jawa. Semua orang Madura adalah santri atau paling tidak menurut anggapan mereka sendiri. Untuk memahami arti agama di dalam kehidupan mereka sehari-hari, kami akan meninjaunya dari tiga aspek yaitu perspektif tujuan hidup, praktek agama sehari-hari dan pendidikan.

Untuk memahami persepsi tujuan hidup orang Madura kami akan mejelaskan melalui penggambaran kehidupan seseorang bernama Syamsuri. Syamsuri adalah seorang pedagang di suatu pasar di kecamatan Lumajang. Sebelum dia dating ke Lumajang, di Madura dia hidup dari sepetak kecil tanah pertanian. Karena dengan tanah pertanian itu dia tidak dapat menghidupi keluarganya secara memadai maka dia mencari pekerjaan ke Jawa. Di memutuskan untuk berdiam di Lumajang. Pekerjaan sehari-hari dia adalah mracang (menjual kebutuhan dapur bagi ibu-ibu rumah tangga) di pasar.

Sehabis bekerja ia selalu tidak lupa melaksanakan shalat lima waktu, termasuk shalat Jum’at. Hasil kerjanya dikumpulkan dengan baik dengan cara menyewa tanah pertanian. Dengan demikian, selain berjualan di pasar keluarga ini juga melakukan aktivitas pertanian. Meskipun demikian, mereka tetap bnerhemat. Apa yang mereka dapatkan, baik dari hasil penjualan di pasar maupun dari hasil pertaniannya, sedikit demi sedikit dikumpulkan sehingga akhirnya mereka bisa membeli beberapa petak sawah.

Setelah usahanya berhasil, berkat letelunanya, Syamsuri sempat menunaikan ibadah haji ke Mekkah bersama dengan istrinya. Sebelum ke Mekkah, ia dan keluarganya memang jarang bepergian ke luar wilayah kabupaten Lumajang. Kecuali, jika berziarah ke kiai atau sekali setahun “turun” ke Madura.

Bagi orang Madura, naik haji mempunyai makna sosial. Di samping mempunyai arti telah menunaikan rukun Islam yang ke lima, orang telah naik haji akan dipanggil tuan, dan prestisnya akan naik sehingga akan memperoleh penghargaan dan penghormatan oleh masyarakat lingkungannya. Karrena itu tidak heran bilamana tujuan hidup orang Madura yang utama adalah menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Orang Madura umumnya sulit membedakan antara Islam dan (kebudayaan) Madura. Hal ini tampak pada praktek kehidupan mereka sehari-hari yang tidak bisa lepas dari dimensi agama islam. Selain shalat lima waktu, orang-orang Madura melaksanakan pula kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan peringatan hari-hari penting agama Islam. Misalnya, selama bula Asyuro, mereka membuat selamatan jenang suro, selama bulan Safar diadakanlah se lamatan jenang sapar, di bulan Maulud mereka memperingati dengan selamatan Mauludan. Di bulan Ramadhan, selain mereka menunaikan ibadah puasa juga aktif melaksanakan kegiatan keagamaan lainnya seperti mengaji, membayar zakat fitrah dan sebagainya.

Perilaku Politik

Perilaku politik orang Madura mencakup bagaimana pemberian suara pada waktu pemilihan umum untuk anggota DPRD Tingkat II Lumajang. Banyak orang terlalu mudah berpendapat bahwa agama bagi orang Madura merupakan faktor paling dominan pengaruhnya terhadap perilaku politik mereka. Akan tetapi, data-data yang disajikan disini memberikan circumstantial evidence (bukti tidak langsung) bahwa walaupun agama merupakan faktor yang mempengaruhi politik namun agama tidak menentukan segala-galanya. Sebaliknya, pengaruh agama tergantung juga pada faktor-faktor lain yang mempunyai arti sosial-ekonomi seperti status ekonomi, diferensiasi sosial-ekonomi, gaya hidup, pola permukiman, jarak geografis ke kota, dan sebagainya. Seperti halnya suku bangsa yang lain, orang madura memperlakukan semua faktor secara seimbang sebelum mereka memberikan suaranya dalam pemilu.dan mereka mengetahui bagaimana membuat perbedaan yang jelas antara kepentingan religius dan kepentingan sosial-ekonomi. Tentu saja, orang santri lebih cenderung memberikan suaranya kepada partai Islam daripada yang bukan santri. Akan tetapi, dalam memutuskan pilihannya mereka bertindak seperti halnya orang Madura yang lain. Perilaku politik pertama-tama tergantung kepada komposisi dan perkembangan faktor-faktor yang telah disebutkan.

Kepemimpinan Informal dan Formal

Kepemimpinan lokal – informal atau formal – mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat madura di kabupaten Lumajang. Pemimpn lokal ini merupakan mediator antara dunia setempat dan dunia yang lebih luas, misalnya seorang kepala desa dapat bertindak sebagai penengah antara rakyat dan pemerintah, seorang kiai sebagai penengah antara penganut agama Islam lokal dan ummat Islam lainnya. Para perantara ini,dalam hal-hal tertentu, menontrol kesenjangan antara “orang terpelajar dan tidak terpelajar, orang kota dengan orang desa, modern dan tradisional, serta penguasa dan rakyat.”

Arti pentingnya kepemimpinan informal dalam masyarakat Madura sangat signifikan. Hal ini terlihat pada cerita tentang santri seorang kiai yang senang bermain sabung ayam, padahal dalam islam hal ini dilarang. Lantas kiai tersebut berkunjung kerumah santri tersebut untuk minta dimasakan sup ayam dari ayam yang menjadi jagoannya dalam bermain. Santri tersebut hanya bisa menuruti kemauan kiai gurunya tersebut yang sangat dihormatinya. Sang santri rela mengorbankan kegemarannya terhadap guru yang dihormati memperlihatkan betapa dijunjung tingginya pemimpin informal dalam masyarakat Madura untuk menentukan perilaku yang benar atau salah.

Untuk pemimpin formal, orang Madura biasanya lrbih banyak berhubungan dengan tingkatan kepemimpinan yang terbawah seperti kepala kampung atau kepala desa. Namun demikian mereka cenderung tetap beranggapan bhwa pemimpin informal lebuh penting. Pemimpin formal mereka anggap hanya sebagai wakil dari tingkat yang lebih tinggi dalam administrasi pemerintahan. Pemimpin informal, sebaliknya, dilihat sebagai wakil masyarakat setempat. Dengan demikian pemimpin pemimpin informal ini bisa lebih berpengaruh pula di bidang politik, tepatnya terhadap perilaku politik mereka.

Sumber kepemimpinan formal juga berbeda dengan kepemimpinan informal. Kepala desa atau kepala kampung misalnya,dapat berkuasa oleh karena mereka memperoleh legitimasi dari pihak pemerintah. Dengan adanya legitimasi ini para pemimpin formal justru cenderung bertindak sebagai penerjemah keinginan-keinginan pemerintah yang harus diteruskan kepada atau dilaksanakan oleh rakyat. Namun, hanya mengandalakan pada legitimasai tersebut nampaknya tidak cukup. Para pemimpin formal masih merasa perlu pula untuk minta bantuan pemimpin formal masih merasa perlu pula untuk minta bantuan pada pemimpin informal dalam melaksanakan kepemimpinannya. Dengan demikian, bagi orang Madura pemimpin formal akan dirasakan kurang penting dari pada pemimpin informal.

Penutup

Masyarakat Madura memiliki unsur islam yang sangat kental. Kehidupan masyarakatnya yang islami terlihat dalam kegiatan keeagamaan serta penilaian masyarakat yang menganggap dirinya ialah seorang santri yang mempelajari agama dari kecil hingga dewasa. Kehidupan masyarakatnya penuh dengan upacara keagamaan dan sedekahan sebagai bentuk rasa syukur kepada tuhan yang maha Esa. Masyarakat Madura memandang naik haji merupakan prestise tersendiri karena dapat juga berpengaruh terhadap kondisi sosial-ekonomi mereka.

Pekembangan Islam berlanjut dalam kehidupan politik masyarakat Madura. Dari santri-santri yang belajar pada langgar atau pesantren menjadi perkumpulan yang berbasis politik sebagai akomodasi kepentingan mereka. Madura dinilai sebagai tanah yang kurang baik dalam rangka mobilisasi. Akan tetapi, perkembangan Sarekat Islam dapat memobilisasi masyarakat sebagai wujud penyatuan kepentingan bersama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.

 

    • indah
    • Juni 9th, 2009

    cuekin ja apa kata orang2 klw madura itu orangnya keras

      • yogakusuma
      • Juni 12th, 2009

      hehehe ini hanya tulisan saya dari kutipan beberapa buku tentang madura mba…

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: