Berikan Suaramu pada 9 April!

krisis kepemilihan Berita ini saya ambil dari kompas beberapa menit yang lalu dan meng-capture-nya untuk blog saya. Selintas berita tentang pemilu di “ganggu” oleh bencana jebolnya tanggul situ gintung juma’t kemarin. Partai-partai pun berlomba-lomba untuk “mencari muka” dalam memberikan bantuan bagi para korban yang kurang lebih jumlahnya 1600 orang pengungsi.

Kembali ke gambar di sebelah tulisan ini yang menyatakan bahwa angka “pemilih bimbang” besar berdasarkan survei yang diadakan Kompas. “undiceded voters” ini menunjukkan bahwa partai-partai di Indonesia tidak terinstitusionalisasi dengan baik. Selain itu, hal ini akan membawa anggapan bahwa electoral volatilty akan tinggi. Electoral volatility sendiri dapat diartikan sebagai selisih antara jumlah suara partai pada dua pemilu atau lebih. Dengan analisis persen banyaknya jumlah suara partai akan menentukan bahwa apakah partai tersebut terinstitu-sionalisasi dengan baik. Partai yang suaranya cendenrung terjadi perubahan yang drastis meunjukkan partai tersebut belum terinstitusionalisasi pada masyarakat dengan baik. Partai yang baik sejatinya memiliki suara yang cenderung konstan dan baiknya meningkat dari pemilu satu ke pemilu yang selanjutnya.

Kekhawatiran selanjutnya yang muncul ialah bagaimana jika angka pemilih bimbang ini tidak dapat menentukan pilihannya pada tanggal 9 April nanti? Tingkat partisipasi dalam pemilu electoral turn-out (partisipasi) juga pastinya akan turun. Jika hal ini terjadi legitimasi pemerintah tentunya akan rendah dan demokrasi kita yang masih rapuh ini sangat mengkhawatirkan. Pembangunan politik dalam negara berkembang yang baru melaksanakan kembali demokrasi (demokratisasi) haruslah pada mobilisasi dan partisipasi yang tinggi dalam politik yang salah satunya ialah pemilu. Hal ini berhubungan dengan terjaganya stabilitas pemerintahan di tengah gelombang kebebasan dan kontrol publik dan media yang tinggi terhadap kinerja mereka.

Tahapan tersebut sering disebut sebagai “konsolidasi demokrasi”. Demokrasi kita masih merupakan demokrasi yang prosedural karena hanya sebatas lembaga-lembaga yang berjalan tanpa adanya mekanisme yang bersih dan demokratis serta didasarkan pada penghayatan dan penjiwaan oleh nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan. Oleh karena itu, stabilitas nasional sangatlah penting melihat stabilitas ekonomi yang tengah labil. Stabilitas ekonomi tentu harus di topang stabilitas politik suatu negara. Hal ini dapat berpengaruh jika pada pemilu nanti stabilitas tetap terjagapemilu dan keadaan ekonomi dapat meningkat kondusif.

Semoga saja tingkat pemilih bimbang yang masih tinggi ini tetap akan melakukan partisipasi. saya melaksanakan pendidikan politik dan pemilih diantaranya dengan membuat grup dalam Facebook. Grup ini juga merupakan kekhawatiran saya akan isu golput yang cukup tinggi khususnya pada kalangan mahasiswa. Mereka sebagai pemilih pemula jangan sampai tidak memberikan suaranya karena merekalah yang menentukan nasib bangsa kita nantinya. Jika mahasiswa sebagai kalangan muda saja tidak berpartisipasi lantas ingin jadi apa negara kita nantinya? Jadi berikanlah aspirasimu untuk Indonesia yang lebih baik!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: