Filsafat Bolak Balik (dan Cara Mengatasinya)

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.

Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan.

 

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara.

Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing.

 

Orang kaya mampu membeli ranjang enak,

tapi gak bisa tidur enak…(stress. .. euii)

Orang miskin, gak mampu beli ranjang,

tapi bisa tidur enak ( capek jadi kuli…)

 

Orang kaya punya duit buat foya-foya,

tapi gak punya waktu.

Orang miskin punya waktu buat foya-foya,

tapi gak punya duit.

 

Masih muda, pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan,

udak kaya, gak punya waktu buat nikmatin kekayaan.

Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan,

udah keburu tua gak ada tenaga.

 

 

Bersyukurlah dan nikmati apa yang sudah kita dapat.

 

(unknown)

Setelah hampir seminggu lebih tidak posting blog, sekarang saya hadir lagi membawa beberapa bait filsafat sehari-hari hidup kita yang amat sayang untuk dilewatkan. Setelah mendapat kiriman email tersebut dari teman saya, saya langsung memikirkan bagaimana hendak saya cegah filsafat itu benar-benar terjadi pada saya. Solusi praktisnya, jadilah orang-orang yang berada di “tengah” dua dikotomi tadi. Tidak terlalu kaya (dengan menghalalkan segala cara), atau tidak terlalu miskin (dengan tidak menggunakan segala cara yang ada alias malas).

sebetulnya teorinya sih gampang aja, tinggal implementasinya dan prosesnya saja yang sering kita lupakan. Jangan sampai kita jadi orang kaya tapi tidak menikmatinya, jangan sampai kita jadi orang miskin yang tidak bisa menikmati hidup juga karena dililit masalah tidak terpenuhinya kebutuhan hidup.

Titik temu yang paling mudah ialah menjadi orang yang bersyukur tetapi dalam implementasinya juga terdapat dua dikotomis; mengejar target dan cenderung ngoyo, atau lebih santai tapi target kita tidak terpenuhi? Baiknya kita harus segera menambahkan sifat sabar dalam diri kita. Jika target tidak bisa diraih, kita tinggal bersabar dan berkerja lebih giat, bukan begitu!?!

Lalu kritikan saya terhadap dua dikotomis ini ialah pembagiannya yang kaku diantara orang kaya dan orang miskin. Mengapa tidak ada orang bahagia? padahal orang yang bahagia lebih penting dari dua sifat orang tadi. Jadi, kekayaan atau kemiskinan seseorang harus kita letakkan lagi pada sejauhmana dia merasa bahagia. Orang yang bahagia tidak akan merasa miskin, orang yang bahagia tidak pernah merasa kurang.

Perlu kita ketahui lagi bahwa sesunggunya kebahagiaan, dan kesuksesan hanyalah sebuah pandangan atau mind-set. Belum tentu orang yang bisa meraih kursi presiden merasa jauh lebih bahagia setidaknya lima tahun kedepan selama masa dia menjabat sebagai presiden. Belum tentu pula seorang musisi yang selalu gagal dalam menjadi artis terkenal hidupnya tidak bahagia. Semua itu tergantung dari persepsi orang dan banyaknya rasa syukur+sabar yang dimilikinya.

    • nova
    • Januari 29th, 2010

    Kenyataan hidup lebih berat dari sekedar filsafat mas, Kita tidak hidup di dunia fantasi,
    Kalau seseorang yang tidak terlibat dalam masalahnya maka semua terlihat mudah dan gampang berteori, tapi kalau seseorang sedang didalam pusaran masalah maka semua akan terasa pahit dan gelap.

      • yogakusuma
      • Januari 31st, 2010

      berarti saya berkesimpulan mas/mba ini sedang berada dalam masalah yang berat….hehehe…kalau kita punya agama dan kita tahu akan adanya hari kiamat dan akhirat buat apa kita pusingkan segala tetek bengek yang terjadi di dunia,orang di dunia ini saja kita cuma sekadar duduk sejenak lalu jalan lagi menuju perjalanan yang lebih panjang yaitu akhirat. Sebaiknya mas/mba juga jangan meremehkan filsafat (meskipun saya sendiri kadang meremehkannya), wong filsafat itu yang melahirkan matematika, fisika, kimia, dan ilmu-ilmu sosial itu kok, terkadang fantasi memang perlu mas untuk menghadapi dunia yang kata mas ini terasa “pahit dan gelap”. saya juga masih belajar mencari jati diri kok mas, tetapi selama kita bisa bernafas maka motto saya adalah nikmatilah, karena mungkin besok lebih pahit dan gelap dari hari ini. Terapkan bersyukur mas/mba, pasti ada orang yang lebih tidak beruntung dibanding Anda. Lalu bekali diri kita dengan ilmu akhirat juga, jangan cuma dengan ilmu dunia yang selalu membuat kita memandang kehidupan dunia ini sungguh berat dan menjemukan. Tuhan tidak menciptakan kita di dunia untuk meratapi dunia yang fana bukan?! maka itu nikmatilah!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: